JA Morgan

Quisque dolor fringilla semper, libero hendrerit allis, magna augue putate nibh ucibus enim eros acumin arcu

Salam pagi belum sempat menyapa beberapa orang yang masih terlelap nyenyak. Namun bagi anak-anak yang menempuh sekolah dasar (SD) di Jorong Pabatungan, Nagari Lawang, hal ini sudah menjadi tanda tapak kaki mereka harus meluncur ke bawah gunung demi menempuh pendidikan. Berbekal tas, pakaian merah putih, dan sarapan yang orang tua mereka haturkan, langkah tegap dan suara pianika dari segerombolan anak menemani jejak di jalan setapak licin yang harus mereka tempuh setiap hari.

 

Ketika manusia berkumpul untuk membicarakan masa depan planet yang bahkan tidak diberi kursi di meja perundingan.

Setiap kali bumi mulai terlalu panas, manusia punya kebiasaan yang sangat menarik. Mereka berkumpul, membuat konferensi, mencetak nametag, menyusun meja bundar, dan membawa map berisi dokumen tebal. Kemudian, dengan pendingin ruangan yang bekerja di belakang, mereka berbicara tentang bagaimana menyelamatkan bumi dari kepanasan.

Di pagi yang masih terasa asing bagi ratusan calon mahasiswa dan sebagian orang tua dari kampung, datang dengan langkah dan raut wajah dan hati yang berbeda–beda pada kawasan kampus Universitas Andalas yang ramai. Wajah-wajah tegang bercampur harap terlihat di antara langkah para calon mahasiswa yang datang untuk mengikuti tes SNBT. Tapi di balik itu semua, ada cerita yang lebih dalam tentang perjalanan, pengorbanan, dan cara orang tua mencintai anaknya.

Sumatera Barat memang tak pernah kehabisan kejutan bagi para pencinta alam. Di balik jajaran bukit barisan dan hamparan sawah yang hijau, tersimpan surga-surga tersembunyi yang menanti untuk "ditemukan" kembali. Salah satu permata yang baru saja kami telusuri adalah Air Terjun Burai Indah. Lokasi persisnya berada di Sungai Antuan, Nagari Mungka, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Perjalanan kami dilaksanakan pada Senin 2 Februari 2026.

Gelombang demonstrasi di bulan Agustus sampai September 2025 kemarin buncah di seluruh  Indonesia, DPR RI merencakan kenaikan tunjangan kerja, tetapi kerja mereka berjoget ketika rapat resmi negara, di luar Gedung Senayan sana ada guru honor yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi hidupnya jauh dari kata sejahtera, setiap hari ada driver ojek online yang lalu lalang di jalanan untuk menafkahi keluarga, ada anak yang butuh biaya sekolah, ada keluarga yang butuh kesejahteraan hidup, nasib rakyat kecil seolah-olah  diabaikan oleh wakil rakyat, DPR bekerja dengan ugal-ugalan, rakyat  marah.

Padang sore Jumat (29/8), tepatnya pukul 16.00 WIB, teriakan “pembunuh” serentak menggema menuju Markas Polda Sumatra Barat. Suara itu lahir serempak dari keresahan yang bersarang di dada mahasiswa, masyarakta sipil, serta drivel ojol yang ikut berdiri di barisan. Mereka tidak sekedar berkumpul, ada keresahan bersama yang menyatu di tengah perkumpulan massa itu.

Page 1 of 2