Bumi yang Tak Punya Kursi di Meja Perundingan, Ia Menunggu di Balik Pintu Rapat

 

Ketika manusia berkumpul untuk membicarakan masa depan planet yang bahkan tidak diberi kursi di meja perundingan.

Setiap kali bumi mulai terlalu panas, manusia punya kebiasaan yang sangat menarik. Mereka berkumpul, membuat konferensi, mencetak nametag, menyusun meja bundar, dan membawa map berisi dokumen tebal. Kemudian, dengan pendingin ruangan yang bekerja di belakang, mereka berbicara tentang bagaimana menyelamatkan bumi dari kepanasan.

Bumi sendiri tidak pernah diundang. Mungkin karena ia dianggap tidak punya hak suara, atau mungkin karena semua orang di ruangan itu sudah merasa cukup mewakilinya.

Pada 23 September 2026, para pemimpin dunia telah berkumpul di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York dalam Climate Summit 2026, yang digelar sepuluh tahun setelah Perjanjian Paris. Agenda resminya terdengar sangat meyakinkan, seperti mempercepat transisi energi, memperkuat ketahanan iklim, mendorong keadilan iklim, dan melindungi manusia dari krisis iklim yang semakin cepat.

Kata-katanya indah. Masalahnya, termometer buta huruf; tak cakap baginya untuk membaca draft pidato tersebut.

Ketika Angka Mulai Berbicara

Kalau bumi bisa berbicara, mungkin ia tidak akan mengirimkan diplomat. Ia mungkin cukup mengirimkan termometer, sebab angka-angka terbaru sudah berbicara cukup keras.

Laporan indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB 2026 mencatat bahwa periode 2015–2025 merupakan sebelas tahun terpanas yang pernah tercatat. Emisi gas rumah kaca global bahkan mencapai 57,7 gigaton CO₂ ekuivalen pada 2024, naik 2,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebelas tahun terpanas, emisi terus naik, dan kita masih mengadakan rapat?

Tentu saja, rapat itu penting. Tetapi ada sesuatu yang agak lucu ketika manusia terus mengatakan bahwa situasinya urgent, sementara tindakannya masih membutuhkan kata later.

Lebih mengkhawatirkan lagi, PBB memperkirakan bahwa bahkan jika seluruh negara memenuhi komitmen iklim mereka saat ini, pemanasan dunia masih berada di kisaran 2,3–2,5°C sepanjang abad ini. Dengan kebijakan yang ada sekarang, angkanya dapat mencapai sekitar 2,8°C.

Di Ruang Ber-AC, Kita Membicarakan Panas

Ada ironi lain yang mungkin lebih kecil, tetapi sulit diabaikan. Setiap kali negara-negara berkumpul membicarakan perubahan iklim, mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Pesawat terbang, mobil bergerak, hotel penuh, lampu menyala, dan pendingin ruangan bekerja.

Semua dilakukan demi satu tujuan yang sangat mulia, yaitu membicarakan bagaimana mengurangi jejak manusia terhadap bumi.

Tentu saja, panas bumi sekarang adalah jejak manusia itu sendiri, bukan?

Tidak ada yang salah dengan pertemuan internasional. Masalah perubahan iklim memang tidak bisa diselesaikan oleh satu negara sendirian. Karbon tidak mengenal paspor, asap tidak berhenti di perbatasan, dan laut tidak membaca peta politik. Karena itu, kerja sama internasional memang menjadi kebutuhan.

Namun, justru di sinilah persoalannya menjadi rumit. Negara-negara harus bekerja sama menghadapi masalah yang sama, tetapi mereka tidak datang dengan beban yang sama.

Ada negara yang industrialisasinya telah berlangsung selama lebih dari satu abad, ada negara yang baru mulai membangun, ada negara yang memiliki uang untuk beradaptasi, dan ada negara yang bahkan masih kesulitan membangun infrastruktur dasar.

Semua diminta menyelamatkan bumi, tetapi tidak semuanya membawa jumlah kesalahan yang sama ke meja perundingan.

Climate Summit 2026 tidak menghasilkan perjanjian iklim baru, tetapi mendorong negara-negara untuk mempercepat pelaksanaan komitmen yang sudah ada. Pembahasannya mencakup transisi energi bersih, peningkatan pembiayaan iklim bagi negara berkembang, serta penguatan adaptasi dan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Sejumlah inisiatif juga didorong dalam bidang energi bersih, jaringan listrik, mineral transisi energi, dan sistem peringatan dini.

Indonesia turut menyampaikan posisinya melalui Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat. Pemerintah menekankan transisi iklim yang berkeadilan, kebutuhan pembiayaan bagi negara berkembang, serta adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, sambil mempertahankan target net-zero emissions pada 2060 atau lebih cepat. Pernyataan tersebut merupakan posisi pemerintah Indonesia dalam forum tersebut, sementara pelaksanaan dan hasil kebijakannya tetap menjadi persoalan tersendiri.

Ketika Laut Mulai Menagih

Pada 24 September 2026, PBB juga mengadakan pertemuan tingkat tinggi mengenai kenaikan muka laut. Agenda tersebut mencakup adaptasi, pembiayaan, ketahanan, dan dampak terhadap kehidupan masyarakat. (UN General Assembly)

Sungguh menarik.

Kita akan duduk di ruangan ber-AC untuk membicarakan laut yang semakin tinggi, sementara sebagian manusia di luar sana sedang menghitung apakah rumah mereka masih akan berdiri beberapa puluh tahun lagi.

Laut memutuskan untuk tak bernegosiasi. Berbeda dengan bumi yang menunggu di balik pintu perundingan, laut bahkan enggan untuk datang.

Ia tidak peduli apakah sebuah negara kaya atau miskin. Ia hanya naik.

Dan ketika air datang, ia tidak akan bertanya:

“Apakah negara Anda sudah memenuhi komitmen Paris?”

Perdamaian dengan Syarat dan Ketentuan

Semua ingin udara bersih, tetapi tidak semua ingin membayar tagihannya.

PBB mencatat pembiayaan iklim global memang telah melewati target US$100 miliar per tahun selama tiga tahun terakhir. Namun, kebutuhan investasi untuk menghadapi perubahan iklim masih jauh lebih besar. . (UN SDG Report 2026)

Kita tahu apa yang harus dilakukan. Emisi harus turun, energi harus bertransisi, negara rentan membutuhkan bantuan, hutan perlu dilindungi, dan laut perlu dijaga.

Masalahnya bukan kekurangan pengetahuan.

Masalahnya adalah kemauan untuk bertindak ketika tindakan tersebut mulai mengganggu kepentingan sendiri.

Dan itu jauh lebih sulit daripada membuat deklarasi.

Bumi Tidak Butuh Pidato

Mungkin itulah ironi terbesar diplomasi iklim.

Kita berbicara tentang bumi seolah-olah ia adalah seorang tamu, padahal kita semua adalah tamunya.

Bumi tidak punya diplomat, tidak punya kursi di PBB, dan tidak punya hak veto. Ia hanya bisa berbicara dengan caranya sendiri, yaitu melalui kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, dan laut yang perlahan naik.

Pada 23 September, manusia duduk bersama membicarakan masa depan bumi. Mereka membawa data, proposal, kepentingan nasional, dan janji.

Sementara bumi tetap berada di luar ruangan.

Tidak diundang. Tidak diberi mikrofon. Tidak diberi kursi.

Namun, mungkin justru bumi yang paling banyak berbicara.

Kita hanya terlalu sibuk berpidato untuk mendengarnya.

Sumber :

United Nations Statistics Division. (2026). The Sustainable Development Goals Report 2026: Goal 13 - Climate Action.

United Nations. (2026). Climate Summit 2026.

United Nations Web TV. (2026). High-level Event on Climate Action and the Just Transition.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. (2026). Menteri LH Tegaskan Komitmen Presiden Prabowo Lewat Aksi Iklim Berkeadilan di Forum PBB.

United Nations General Assembly. (2026). High-level Plenary Meeting to Address the Existential Threats Posed by Sea-level Rise.