Menapak Rantau, Menjaga Harapan: Cerita Anak dan Orang Tua di Hari UTBK Universitas Andalas

Di pagi yang masih terasa asing bagi ratusan calon mahasiswa dan sebagian orang tua dari kampung, datang dengan langkah dan raut wajah dan hati yang berbeda–beda pada kawasan kampus Universitas Andalas yang ramai. Wajah-wajah tegang bercampur harap terlihat di antara langkah para calon mahasiswa yang datang untuk mengikuti tes SNBT. Tapi di balik itu semua, ada cerita yang lebih dalam tentang perjalanan, pengorbanan, dan cara orang tua mencintai anaknya.

Ibu Nini duduk di pelataran lorong barisan ruang ujian SNBT Fakultas Hukum Universitas Andalas, sesekali memperhatikan anaknya, Tyo Septiawan, yang tengah bersiap menghadapi ujian. Ia datang jauh-jauh dari Lintau, Tanah Datar, Batusangkar. Sudah dua hari ia berada di Padang, menumpang di kos anak tetangga di daerah Kapalo Koto. Perjalanan mereka tempuh berdua dengan travel, sebuah langkah kecil yang terasa besar bagi seorang ibu.

Hari pertama di Padang dihabiskan Ibu Nini dengan satu hal sederhana: memastikan anaknya tidak tersesat. Bersama Tyo, ia berkeliling kampus, mencoba mengenali sudut-sudut baru yang sebelumnya hanya ada dalam bayangan. Hari kedua, barulah momen yang ditunggu datang hari ujian.

“Biasanya saya agak tegas sama dia,” ceritanya pelan. “Tapi menjelang SNBT ini, saya coba lebih lembut. Biar dia tidak terlalu terbebani.”

Ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan. Baginya, hasil bukan segalanya. Ia sudah membekali anaknya dengan bimbingan belajar di kampung, perhatian lebih, dan doa. Tapi jika nanti hasilnya tidak sesuai harapan, ia sudah siap menerima.

“Mungkin itu memang batas kemampuan dia. Saya tidak akan marah.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat seolah merangkum bentuk cinta yang tidak memaksa.

Tak jauh dari sana, Ibu Gusniar juga punya cerita serupa, meski dengan perjalanan yang sedikit berbeda. Ia datang dari Payakumbuh, Lima Puluh Kota, menemani anak bungsunya, Nayla Azzahra. Karena kehabisan travel di hari sebelumnya, mereka baru bisa berangkat pukul 10 malam.

Perjalanan malam itu mungkin melelahkan, tapi tidak mengurangi semangatnya. Kini ia menginap di kos anak tetangga di Limau Manis, dekat kampus.

Anaknya memilih jurusan Kesehatan Masyarakat pilihan yang lahir dari keinginan sendiri. Sebagai ibu, Gusniar tak banyak menuntut. Ia hanya memastikan Nayla tidak merasa sendirian selama masa persiapan.

“Saya selalu doakan dia,” ujarnya. “Supaya dilancarkan, dimudahkan.”

Bekal yang ia berikan juga sederhana tapi penuh makna: buku tes SNBT, video pembelajaran, dan perhatian kecil yang terus dijaga. Ia tahu, dalam proses panjang ini, anaknya tidak hanya butuh ilmu, tapi juga rasa ditemani.

Di sudut lain kampus Fakultas Ekonomi, seorang pemuda bernama Erik Fernando tampak berjalan santai, meski sebenarnya menyimpan rasa cemas pada raut wajahnya. Ia datang sendiri dari Padang Pariaman, tepatnya dari Gunung Padang Alai. Menginap di kos teman abangnya, ia mencoba mandiri menghadapi momen penting ini.

Awalnya ia mengira akan sendirian, tapi ternyata ada teman sekampung yang juga ikut ujian meski mereka akhirnya berpisah lokasi. Erik mendapat jadwal siang, pukul 13.30 setelah ibadah salat Jumat. Masih ada waktu, dan ia memanfaatkannya untuk berkeliling kampus, terutama di sekitar Fakultas Ekonomi.

“Belum pernah ke sini,” katanya sambil tersenyum kecil. “Jadi sekalian lihat suasana kampus.”

Di balik sikap santainya, ada harapan yang ia simpan rapi. Ia ingin masuk jurusan Pendidikan Ekonomi. Persiapannya mungkin tidak mewah menonton video Pelajaran SNBT, ikut try out gratis, dan les tambahan dari sekolah tapi cukup untuk membuatnya percaya diri.

“Kalau lulus nanti,” katanya. “Saya mau cari beasiswa dan ikut lomba.”

Langkah-langkahnya kecil itu, tapi arah yang ia tuju sudah pasti. Dari ibu yang menemani hingga anak yang berjuang sendiri, semuanya bertemu di satu titik yang sama yaitu harapan.

Di kampus ini, hari ini, ratusan bahkan ribuan cerita saling berpapasan. Anak-anak rantau datang membawa mimpi, sementara orang tua mengiringi dengan doa dan harapan. Tidak semua akan berakhir dengan kabar baik, tapi setiap perjalanan tetap memiliki makna. ujian SNBT bukan hanya tentang soal dan nilai. Ia menjadi ruang pertemuan antara doa-doa orang tua, usaha anak-anak, dan mimpi yang sedang diperjuangkan. Dan di antara hiruk pikuk itu, kisah-kisah sederhana seperti milik Ibu Nini, Ibu Gusniar, dan Erik Fernando justru menjadi yang paling terasa karena di situlah arti perjalanan sebenarnya. Dan di antara semua itu, satu hal yang pasti: mimpi anak rantau tidak pernah datang sendirian ia selalu ditemani oleh doa yang diam-diam menguatkan. 

Reporter: Dzakwan Deffa