Salam pagi belum sempat menyapa beberapa orang yang masih terlelap nyenyak. Namun bagi anak-anak yang menempuh sekolah dasar (SD) di Jorong Pabatungan, Nagari Lawang, hal ini sudah menjadi tanda tapak kaki mereka harus meluncur ke bawah gunung demi menempuh pendidikan. Berbekal tas, pakaian merah putih, dan sarapan yang orang tua mereka haturkan, langkah tegap dan suara pianika dari segerombolan anak menemani jejak di jalan setapak licin yang harus mereka tempuh setiap hari.
Tinggal di daerah dengan akses perjalanan yang jauh masuk ke dalam gunung dan hutan, menjadikan masyarakat Jorong Pabatungan perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk menempuh dunia luar. Hal ini turut dirasakan sejumlah siswa SD yang menempuh perjalanan sekitar dua kilometer demi sampai ke sekolah yang berada di bawah kaki gunung. Jarak dua kilometer mungkin terdengar dekat bagi sebagian pihak, namun melihat kondisi jalan yang menanjak dan menurun ekstrem, perjalanan ini tidak seketika menjadi mudah.
Kala matahari masih malu menunjukkan rupa, anak-anak ini sudah sedia dengan pakaian rapi mereka. Setiap pagi, mereka berkumpul di satu titik dan menunggu semua personil anak SD lainnya lengkap, barulah mereka turun bersama-sama.
Raut lelah dan takut tidak lepas terlihat dari mimik wajah orang tua kala melepas sang anak menitih tapak kaki di tengah hutan. Berbanding terbalik dengan sang anak yang merasa biasa, terlalu biasa, bahkan tampak seperti anak kemaren sore yang menggaungkan nama teman di depan rumah untuk diajak bermain santai.
Bagi mereka, hal ini adalah perjalanan sepele yang bukan lagi menjadi beban, namun keharusan yang semakin lama menjadi kebiasaan. “Ga takut dan ga sakit kaki, udah biasa pergi sama pulang sekolah mendaki jalan ini,” ujar Nazwa salah seorang anak Pabatungan yang masih menempuh kelas satu sekolah dasar.
Keberadaan sekolah terdekat yang hanya ada di bawah kaki gunung membuat mereka mau tidak mau, suka tidak suka harus dijalani agar dapat menempuh pendidikan. Syukur jika cuaca sejuk, tidak terlalu panas dan dingin sehingga anak-anak dapat turun dengan aman. Lain hal jika hujan melanda, jalan yang sudah dipenuhi lumut kian licin, berpotensi menjatuhkan siapa saja yang melewatinya.
Siklus ini terus berulang ketika bel tanda pulang sekolah nyaring berbunyi. Gerombolan merah putih kembali berjalan mendaki gunung demi sampai di rumah masing-masing. Di sinilah tantangan lain dirasakan, tanjakan tinggi, jalan licin yang berkelok tajam turut membuat betis dan kaki kebas kesakitan, sesak napas, dan pikiran untuk menyerah setiap saat bagi yang tidak terbiasa menjalaninya. “Pernah ada yang jatuh, tapi mau gimana lagi kita tetap jalan bareng-bareng,” ujar Nazwa.
Lain halnya dengan siswa SD, ketika beranjak dewasa dan menempuh sekolah menengah pertama dan atas, sang anak dibiarkan tinggal di daerah bawah. Mereka perlu mencari kos dan tidak lagi mengandalkan tapak kaki mungil serta jalan setapak licin untuk menempuh pendidikan. Jauhnya jarak serta ketiadaan satupun cahaya di sepanjang jalan menjadi kekhawatiran utama bagi orang tua yang mendorong mereka rela berpisah berminggu-minggu dari anak tercinta.
“Mau gimana lagi, jam belajar mereka makin sore. Kalau tetap pulang balik, takutnya kenapa-kenapa. Paling tiap libur mereka balik ke rumah,” ujar Amak, seorang nenek yang cucunya juga menempuh jalan hutan menuju sekolah.
Sebenarnya, terdapat pilihan akses menggunakan ojek gunung yang dapat dipesan dari masyarakat sekitar. Bagi masyarakat, ojek ini biasa digunakan ketika kembali dari pasar yang berada di pemukiman bawah. Kendati demikian, hal ini tidak menghilangkan kekhawatiran orang tua yang melihat kondisi jalanan. Bagi mereka, keselamatan tetap menjadi pertimbangan dalam melepaskan sang buah hati menimba ilmu.
Hal ini dapat terlihat ketika bencana galodo yang melanda sebagian wilayah Sumatera beberapa waktu silam. Jalan penghubung utama masyarakat dengan daerah bawah pupus, habis tidak tersisa. Masyarakat sempat terisolasi satu minggu lamanya. Tidak dapat mengakses dunia luar, tidak ada kendaraan yang bisa menyeberang, apalagi kaki manusia yang berusaha melawan.
Saat itulah anak-anak merah putih ini harus melewati sebongkah kayu yang disusun bak jembatan sederhana penuh resiko. Berjalan perlahan dengan air deras di bawah tapak kaki dan angin kencang yang masih bisa menggoyahkan langkah.
“Waktu galodo, kami ke sekolah lewat kayu kecil, satu-satu gantian jalan biar sampe ke sekolah,” ujar Nadya, siswa SD kelas lima yang sudah lama merasakan sepak terjang perjalanan ini.
Jauhnya jarak dan ketiadaan cahaya tidak memutus rasa semangat mereka untuk mengenyam pendidikan. Bagi mereka, selama masih ada jalan yang bisa ditapaki, maka masih ada harapan untuk datang ke dunia yang akan membawa mereka ke mimpi yang mereka elukan.
Reporter: Rahma Dini