Enam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas di Universitas Andalas menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Konsolidasi Pemikiran Pemuda dan Gerakan Intelektual Sumatera Barat” di Kolam PKM Universitas Andalas, Senin (5/10/2026). Kegiatan tersebut membahas kondisi gerakan mahasiswa, persoalan kebangsaan, serta peran generasi muda dalam membaca berbagai persoalan di masyarakat.
Dialog tersebut menghadirkan Ketua BEM UGM 2025, Tiyo Ardianto dan sejumlah aktivis kampus seperti Doni Saputra, dan Imelda Wahyuni sebagai narasumber. Selain itu, turut hadir Dr. Hary Efendi, S.S., M.A., M. Nurul Fajri, S.H., M.H., LL.M, selaku akademini. Masing-masing narasumber memberikan pandangan berdasarkan latar belakang akademik maupun pengalaman dalam gerakan mahasiswa.
Ketua BEM FISIP UNAND sekaligus moderator kegiatan, Shelvy Anggraihi, mengatakan Dialog Kebangsaan merupakan bagian dari gerakan kolektif yang diinisiasi bersama sejumlah BEM fakultas dan didukung organisasi mahasiswa dari dalam maupun luar kampus. Konsolidasi tersebut dilakukan untuk membangun kesadaran dan menyamakan perspektif mengenai gerakan intelektual mahasiswa dan pemuda di Sumatera Barat.
Menurut Shelvy, konsolidasi tersebut diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat pergerakan mahasiswa dan kemampuan mahasiswa dalam bernalar kritis. Mahasiswa juga diharapkan mampu mengkritisi kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Tiyo Ardianto yang merupakan Ketua BEM UGM 2025 mengawali pembahasan dengan menempatkan kemanusiaan sebagai dasar dalam melihat persoalan kebangsaan. “Kita diperintahkan oleh Tuhan pertama kali adalah untuk menjadi manusia, dan dalam konteks kebangsaan selanjutnya kita dilahirkan untuk menjadi manusia Indonesia,” ujar Tiyo.
Pembahasan kemudian berkembang melalui pandangan dari sejumlah ketua BEM berdasarkan kajian dan perspektif keilmuan masing-masing. Ketua BEM FISIP menyoroti kondisi pergerakan generasi Z di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, yang dinilai masih mengalami kemandekan.
Isu hubungan aktivisme dan kekuasaan turut dibahas dalam sesi diskusi. Salah satu peserta mempertanyakan posisi aktivis ketika masuk ke dalam pemerintahan serta kemungkinan hilangnya sikap kritis setelah berada dalam kekuasaan. Tiyo merespons dengan menyinggung pengalaman sejumlah aktivis yang masuk ke pemerintahan dan kemudian dinilai hanyut dalam kekuasaan.
Perwakilan BEM Fakultas Keperawatan juga mengangkat persoalan kesehatan dalam diskusi. Pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat dapat hidup sehat dalam lingkungan yang sakit menjadi salah satu pembahasan yang mengaitkan persoalan kebangsaan dengan kehidupan masyarakat.
M. Nurul Fajri, S.H., M.H. menekankan tiga hal dalam konsolidasi gerakan mahasiswa. “Yang pertama tentang meningkatkan dan menguatkan ruang konsolidasi, yang kedua bicara tentang kesadaran mahasiswa tentang tujuan bersama, tujuan kolektif. Dan yang ketiga bicara tentang otoritarian yang lawannya hanya kebebasan sipil,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan pembacaan manifesto sebagai bentuk pernyataan sikap dan komitmen bersama mahasiswa atas gagasan yang dibahas selama forum.
Reporter: Puja Marliati