Selasa (29/9/2026), Sejumlah organisasi mahasiswa (ormawa) dan himpunan mahasiswa (hima) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas (FISIP UNAND) menggelar konsolidasi untuk menyampaikan sejumlah aspirasi terkait pengelolaan Markas Besar (Mabes) FISIP. Pertemuan membahas persoalan terkait kebijakan renovasi dan pengelolaan Mabes yang dinilai sepihak dan merugikan, mulai dari tiadanya sekat ruangan, kendala operasional, hingga kekhawatiran hilangnya inventaris berharga milik ormawa.
Ketua BEM FISIP UNAND, Shelvy Anggraini, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkali-kali mencoba melakukan audiensi dengan dekanat membahas berbagai persoalan. Masalah tersebut meliputi pergantian kunci pintu Mabes yang kini dipegang oleh Wakil Dekan dan satuan pengamanan (satpam) tanpa pemberitahuan kepada mahasiswa, jam tutup dan buka Mabes, hingga fasilitas ruangan yang belum terpenuhi.
"Mereka membuat keputusan tiba tiba, semua pintu ini diganti kuncinya. Sedangkan kami mahasiswa tidak diberitahu sebelumnya. Jadi tujuan hari ini adalah untuk mengembalikan mabes selayaknya ada ruang pribadi untuk ormawa," ujar Shelvy.
Kritik serupa disampaikan oleh Ketua Himpunan Ilmu Politik UNAND sekaligus perwakilan himpunan jurusan, Jovan Fadlal. Menurutnya, perubahan konsep dan susunan Mabes yang menghilangkan sekat antar ormawa dan himpunan justru membatasi ruang diskusi.
“Ketika konsep dan susunan Mabes itu sudah berubah, ada tiga hal yang dibicarakan, yaitu adanya sekat ataupun batasan-batasan dalam setiap ormawa maupun hima yang hingga saat ini belum ada. Sekiranya itu ada, dapat membuat pembatasan ruang diskusi bagi setiap hima maupun ormawa,” katanya.
Selain persoalan sekat, Jovan turut menyoroti fasilitas ruangan, khususnya akses internet. Ia mengatakan kebutuhan tersebut telah beberapa kali disampaikan kepada pihak terkait, bahkan sebelum Mabes mengalami perubahan.
“Itu juga menjadi salah satu hal yang disorot karena sudah berkali-kali diaudiensi, bahkan sebelum Mabes ini dirombak, itu sudah disuarakan. Namun, masih belum didapatkan oleh seluruh ormawa maupun hima,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISIP UNAND, Aini Ananta, menyoroti dampak dari hilangnya sekat dan konsep Mabes yang dibuat terbuka. Kondisi ini dinilai memicu hilangnya sejumlah inventaris masing-masing ormawa akibat tidak adanya ruang privat yang aman.
“Setelah yang disampaikan oleh Ketua BEM dan perwakilan dari hima-hima, terkait jam operasional ataupun sekretariat bersama yang sebelumnya ada dan sekarang tidak ada karena bersifat terbuka dan bergabung, itu mengakibatkan inventaris dari masing-masing ormawa juga banyak yang hilang,” ujar Aini.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Fauzan, anggota Sinergi Kreativitas dan Seni (SINTESA) FISIP UNAND. Ia membeberkan bahwa mereka pernah kehilangan satu set talempong berbahan kuningan berisi 16 buah senilai sekitar Rp8 juta yang diperkirakan hilang pada pertengahan 2024 lalu. Hingga kini belum ditemukan pelakunya. Pengajuan pengadaan talempong baru yang diajukan bulan lalu juga belum kunjung disetujui pihak dekanat. Pihaknya telah beberapa kali menindaklanjuti persoalan tersebut, tetapi belum mengetahui pihak yang bertanggung jawab atas kehilangan inventaris tersebut.
“Kami pernah kehilangan talempong satu set, isinya 16 talempong kuningan. Kalau diakumulasikan sekarang harganya sekitar Rp8 juta, Nah itu perkiraan hilang di pertengahan 2024. Waktu itu Mabes sebelumnya belum banyak CCTV. Sampai sekarang belum dapat siapa yang mencurinya dan sudah beberapa kali kami follow up ke dekanat terkait kehilangan ini, juga belum ada respons,” Ujar Fauzan.
Selain kehilangan inventaris, Fauzan juga menyoroti kondisi ruangan Mabes yang menggunakan pendingin udara atau AC. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan bagi SINTESA karena beberapa alat kesenian seperti tambuik dapat mengalami kerusakan jika terlalu lama disimpan di ruangan ber-AC.
“Mabes sekarang yang ruang full AC juga membuat kami kewalahan karena tambuik ketika disimpan di ruangan ber-AC bisa rusak,” ujarnya.
Ia mengatakan pengurus SINTESA yang memiliki kelas pada pagi hari harus bergantian mengeluarkan dan menjemur tambuik agar tidak terlalu lama berada di ruangan ber-AC.
“Ketika kegiatan Mabes ini dipakai oleh ormawa karena konsepnya bersama, AC menyala. Maka kami bagi pengurus yang ada kelas pagi bergantian menjemur tambuik agar tidak terlalu lama di ruangan ber-AC, dan sangat membutuhkan sekali ruangan tersendiri untuk menyimpan alat-alat kami” katanya.
Seluruh Ormawa Fisip menegaskan akan mengambil langkah tegas dan membuat propaganda agar persoalan tersebut segera dilirik dan ditindaklanjuti oleh dekanat FISIP UNAND.