Ketua BEM UGM 2025, Tiyo Ardianto, mengingatkan pemuda bahwa tidak semua orang harus menjadi aktivis dengan model yang sama. Menurutnya, yang terpenting adalah nilai yang dipegang, bukan profesi yang dijalani. Ia menyampaiakan hal tersebut pada dialog kebangsaan "Konsolidasi Pemikiran Pemuda dan Gerakan Intelektual Sumatera Barat" yang digelar di PKM Universitas Andalas (5/10/2026).
Tiyo mengawali paparannya dengan pertanyaan mengenai perintah pertama Tuhan kepada manusia. Ia kemudian menjelaskan bahwa manusia memiliki akal yang membedakannya dari makhluk lainnya. “Otak itu hanya hardware, sementara akal itu software,” ujarnya.
Ia mengkritik kelemahan yang sering terjadi pada aktivis, yakni menuntut orang lain ikut menjadi aktivis tanpa memikirkan kondisi masing-masing. Ia mengajak peserta menyadari bahwa setiap orang memiliki situasi berbeda, termasuk mahasiswa yang harus ikut membantu orang tua membayar listrik atau biaya kuliah.
"Kita ambil nilainya, bukan profesinya," kata Tiyo.
Ia mencontohkan sosok hakim konstitusi yang menurutnya tegas soal keadilan. Tidak semua orang bisa menjadi hakim konstitusi, tetapi ketegasan, keberanian, dan kejujuran yang dimiliki tokoh itu bisa diteladani siapa saja. Jika semua orang dipaksa menjadi aktivis dengan model yang sama, ia menilai Indonesia tidak akan berubah.
Dalam sesi diskusi, Tiyo juga menanggapi persoalan yang disampaikan Ketua BEM Fakultas Ilmu Budaya, Wahyu Rafael Lingga, mengenai penggunaan bahasa oleh pejabat publik. Wahyu mempertanyakan apakah pilihan kata pejabat negara dapat memengaruhi cara masyarakat berbahasa dan membentuk cara pandang publik.
Dalam analisisnya, ia menggunakan konsep ketepatan dan kesesuaian berbahasa. Sebagai contoh, ia merujuk pada pidato Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya sempat memakai kata "ndasmu", bahasa Jawa yang berarti "kepalamu", lalu menyebut kata "goblok". Menurutnya, penggunaan kata-kata itu oleh kepala negara layak dipertanyakan dari sisi kesesuaian.
Menanggapi hal itu, Tiyo mempertanyakan apakah sikap santun merupakan tuntutan bagi seorang presiden.
"Untuk tidak berkata kasar, apakah harus jadi presiden dulu?" tanya Tiyo. Menurutnya, tuntutan bertutur santun tidak semestinya hanya melekat pada jabatan, tetapi pada setiap manusia.
"Sebelum jadi presiden, dia harus jadi manusia yang baik," ujarnya.
Di akhir paparannya, Tiyo mengajak peserta menyanyikan lagu "Indonesia Pusaka" bersama-sama. Menurutnya, salah satu masalah utama bangsa ini adalah Indonesia tidak dianggap sebagai pusaka yang harus dijaga.
Reporter: Friska Andini