Buku Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatera Barat karya Yose Hendra menyoroti pentingnya pengetahuan lokal masyarakat Minangkabau dalam menghadapi ancaman bencana alam. Buku tersebut mengangkat berbagai bentuk kearifan lokal yang selama ini diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat.
Dalam pemaparannya pada kegiatan bedah buku yang diselenggarakan Ikatan Kekerabatan Antropologi (IKA) Universitas Andalas di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Selasa (10/3), Yose Hendra menjelaskan bahwa penulisan buku tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi geografis Sumatera Barat yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.
Ia merujuk pada peta Indeks Risiko Bencana yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menunjukkan sebagian besar wilayah di provinsi tersebut berada pada kategori risiko tinggi sepanjang periode 2015 hingga 2024. “Hampir seluruh jenis bencana pernah terjadi di Ranah Minang, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir bandang atau galodo, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga cuaca ekstrem,” ujarnya.
Menurut Yose, kondisi tersebut membuat Sumatera Barat kerap disebut sebagai “supermarket bencana”. Situasi ini menunjukkan pentingnya memperkuat strategi mitigasi yang tidak hanya berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan modern, tetapi juga pengetahuan lokal masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat Minangkabau sejak lama telah memiliki cara untuk membaca tanda-tanda alam serta membangun strategi bertahan terhadap bencana. Pengetahuan tersebut tersimpan dalam berbagai bentuk tradisi budaya. “Pengetahuan itu ada dalam petatah-petitih, syair, hingga arsitektur rumah adat yang dirancang untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam,” katanya.
Menurutnya, berbagai ungkapan dalam tradisi Minangkabau juga mengandung pesan kewaspadaan terhadap potensi bahaya alam. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki pemahaman tersendiri dalam membaca gejala alam serta menjaga keseimbangan lingkungan.
Melalui buku tersebut, Yose berharap pengetahuan lokal masyarakat Sumatera Barat dapat kembali dipahami sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana. Ia juga menilai penggabungan pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah dapat memperkaya kajian kebencanaan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Reporter: Nofal Ramadhan