Ikatan Kekerabatan Antropologi (IKA) Universitas Andalas menggelar diskusi publik dan bedah buku Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatera Barat karya Yose Hendra, di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Padang, Selasa (10/3). Kegiatan ini membahas peran pengetahuan lokal masyarakat Minangkabau dalam menghadapi risiko bencana di Sumatera Barat.
Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 50 mahasiswa dan dosen antropologi dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Padang. Diskusi menghadirkan penulis buku Yose Hendra bersama sejumlah akademisi dan peneliti untuk membahas keterkaitan antara budaya lokal dan upaya mitigasi bencana.
Acara dimoderatori oleh dosen Antropologi Universitas Negeri Padang, MHD. Hidayat. Sejumlah pembicara turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Program Studi Magister Antropologi Universitas Andalas Lucky Zamzami, dosen Antropologi Universitas Negeri Padang Wirda Ningsih, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Febriyandi, serta Wali Kota Padang Fadly Amran.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Padang, Fadli Amran, menyerukan kolaborasi antar-elemen masyarakat. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk bekerja sama dengan warga dalam menjaga tanah kelahiran melalui pendekatan kearifan lokal. "Kita memperindah dan mempercantik tanah kita dengan cara memitigasi bencana alam melalui kearifan lokal yang kita miliki," pungkas Fadli.
Lucky Zamzami menyebut buku yang dibahas dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Minangkabau memiliki pola pengetahuan tersendiri dalam merespons bencana. Menurutnya, pengetahuan tersebut telah lama terbentuk dan tercermin dalam falsafah alam takambang jadi guru. “Banyak perilaku masyarakat adat yang sebenarnya merupakan bentuk adaptasi terhadap kondisi alam. Pengetahuan itu diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Sementara itu, Wirda Ningsih menilai pendekatan mitigasi bencana tidak dapat dilepaskan dari dimensi sosial dan budaya masyarakat. Ia mengatakan bahwa selama ini mitigasi kerap dipahami hanya melalui pendekatan ilmiah seperti fisika atau geologi, padahal nilai budaya juga memuat pengetahuan penting tentang cara menghadapi bencana.
Peneliti BRIN, Febriyandi, menilai diskusi mengenai mitigasi berbasis kearifan lokal penting untuk memperkaya pendekatan dalam kajian kebencanaan. Menurutnya, pemahaman mengenai relasi masyarakat dengan lingkungan perlu diperkuat, terutama di wilayah yang memiliki risiko bencana tinggi seperti Sumatera Barat.
Melalui kegiatan diskusi dan bedah buku ini, penyelenggara berharap pengetahuan lokal masyarakat Minangkabau dapat kembali diperhatikan sebagai bagian dari upaya memahami serta mengurangi risiko bencana di Sumatera Barat.
Reporter: Dzakwan Deffa