Suara Sempat Imbang, Selvy Anggraini–Arif Furqan Menang Pemira Perdana FISIP UNAND

Pemilihan Umum Raya (Pemira) perdana FISIP UNAND mencatat sejarah baru dengan terpilihnya Selvy Anggraini, mahasiswi Administrasi Publik angkatan 2023, sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UNAND. Ia menjadi perempuan pertama yang memimpin BEM FISIP UNAND setelah melalui proses Pemira selama dua hari.

Selvy Anggraini maju bersama Arif Furqan, mahasiswa Antropologi angkatan 2023, sebagai wakil ketua. Pasangan ini berhasil unggul dalam kontestasi yang berlangsung ketat, sekaligus menandai babak baru demokrasi mahasiswa di lingkungan FISIP UNAND.

Pemira FISIP UNAND digelar selama dua hari setelah hasil pencoblosan pada hari pertama, Selasa (17/12/2025), menunjukkan perolehan suara imbang antara kedua paslon. Panitia kemudian memperpanjang masa pencoblosan hingga Rabu (18/12/2025). Pada hari kedua, pasangan Selvy Anggraini–Arif Furqan akhirnya unggul dengan selisih sekitar 25 suara.

Di balik kemenangan tersebut, Selvy mengakui bahwa proses pencalonan hingga terpilih tidak berjalan mudah. Sebagai perempuan pertama yang maju dalam Pemira perdana FISIP, ia menghadapi berbagai tantangan, baik secara internal maupun eksternal.

“Karena aku perempuan dan ini juga pertama kalinya FISIP melaksanakan Pemira, ditambah lagi baru pertama kali ada perempuan yang mencalon sebagai Ketua BEM, tentu ada banyak tantangan,” ujar Selvy.

Ia mengatakan keraguan sempat muncul dari dalam dirinya, terutama terkait kesiapan bersaing dengan kandidat lain. Namun, Selvy tetap melanjutkan pencalonannya hingga proses Pemira selesai. Terkait kepemimpinannya ke depan, Selvy menyebut akan membawa semangat emansipasi perempuan dalam menjalankan organisasi. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama untuk memimpin dan berperan aktif dalam ruang politik mahasiswa.

“Saya membawa spirit of woman, semangat perempuan. Bahwa perempuan juga bisa memimpin dan tidak tertinggal dari laki-laki, termasuk di FISIP,” tegasnya.

Selvy juga menyoroti pelaksanaan Pemira perdana FISIP UNAND yang menurutnya masih perlu dievaluasi. Ia menilai keterbatasan pengalaman panitia serta belum adanya screening committee (SC) menjadi salah satu kendala dalam penyelenggaraan.

“Beberapa hal mungkin terlewat oleh PPU atau Panwaslu karena ini pengalaman pertama. Mereka juga belum punya SC sebelumnya, jadi wajar jika masih banyak belajar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Selvy juga menanggapi waktu pelaksanaan Pemira yang bertepatan dengan masa ujian serta timeline yang relatif singkat. Meski demikian, Selvy tetap mengapresiasi kerja panitia yang telah menyelenggarakan Pemira selama dua hari dengan prinsip Luber Jurdil (langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil).

Di akhir wawancara, Selvy menyampaikan pesan khusus kepada mahasiswi FISIP agar tidak ragu mengambil ruang di organisasi kampus. Ia menegaskan bahwa perjuangannya bukan untuk meninggikan perempuan di atas laki-laki, melainkan menempatkan keduanya pada posisi yang setara.

“Perempuan jangan takut untuk bergabung di organisasi apa pun, baik BEM, DPM, UKMF, maupun badan lain di FISIP atau Unand. Kami ingin menciptakan ruang aman agar perempuan bisa tumbuh dan berani berproses,” tutupnya.

Penulis: Ghaza Alfatih