Climate Festival Vol. 2 Bahas Krisis Iklim dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan di Padang

Suasana diskusi publik dalam rangka Climate Festival Vol. 2 berlangsung dinamis di Padang, Jumat (17/4). Mengusung tema "Dinamika Krisis Iklim dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan di Tingkat Lokal”, forum ini menghadirkan berbagai perspektif dari akademisi, aktivis, hingga masyarakat terdampak langsung.

Sejumlah pembicara yang hadir antara lain Direktur LBH Padang Diki Rafiqi, dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Andalas Dr. Apriwan, S.Sos., M.A., seniman Boy Candra, pegiat HAM Gustika Jusuf, serta Ayu Dasril, petani sekaligus paralegal dari kawasan Gunung Talang dan Helmi Heriyanto S.T M.Eng sebagai Kepala dinas ESDM Sumatera Barat.

Dalam pemaparannya, Diki Rafiqi menyoroti lemahnya keterlibatan masyarakat dalam proses perumusan kebijakan, khususnya di sektor energi. Menurutnya, banyak kebijakan yang masih bersifat sentralistik. “Kebijakan cenderung datang dari pusat, bukan dari daerah. Padahal dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat lokal,” ujarnya. Ia juga menyinggung konsep butterfly effect, di mana keputusan kecil dapat berdampak besar, serta pentingnya mendorong demokratisasi energi agar lebih partisipatif.

Sementara itu, Dr. Apriwan menekankan bahwa persoalan tata kelola masih menjadi hambatan utama dalam menghadapi krisis iklim. Ia mencontohkan sektor kehutanan yang dinilai belum sepenuhnya tertata dengan baik. “Masalah tata kelola yang belum tuntas ini berimplikasi pada lemahnya pengendalian lingkungan,” katanya.

Ayu Dasril membagikan pengalamannya terkait rencana pembangunan proyek geothermal di Gunung Talang sejak 2017. Ia menyebutkan bahwa forum musyawarah yang dilakukan saat itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Kami diundang untuk musyawarah, tapi justru mendapat intimidasi. Proyek tetap dijalankan,” ungkapnya.

Ayu juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menjalani hukuman penjara selama dua tahun akibat keterlibatannya dalam aksi penolakan. Bahkan, menurutnya, belasan warga sempat masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Meski begitu, ia menegaskan bahwa masyarakat tetap berupaya mempertahankan ruang hidup mereka.

Di sisi lain, Boy Candra melihat seni sebagai medium alternatif dalam menyuarakan isu-isu lingkungan. Menurutnya, pendekatan kreatif dapat menjangkau lebih banyak kalangan. “Seni bisa menjadi cara untuk menyampaikan keresahan masyarakat dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami,” ujarnya.

Perwakilan pemerintah daerah, Helmi, menyampaikan bahwa Sumatera Barat menghadapi tantangan dalam penyediaan listrik, dengan kebutuhan cadangan energi yang idealnya mencapai 20 persen. Ia menambahkan bahwa pemerintah provinsi membuka ruang dialog terkait pengembangan energi, termasuk proyek geothermal.

Penulis: Hawa Aulia