BEM KM Unand Diterpa Kritik Publik, Isu Intervensi dan Intoleransi Mencuat

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (BEM KM Unand) periode 2026 mendapat sorotan dan kritik dari sejumlah pengguna media sosial dalam dua bulan awal masa kepengurusan. Kritik tersebut ramai disampaikan melalui kolom komentar akun resmi BEM KM di Instagram @bemkmunand.

Sejumlah komentar menyoroti dugaan adanya intervensi pihak senior organisasi eksternal dalam proses pemilihan struktural pengurus, isu intoleransi beragama, serta kinerja organisasi yang dinilai belum maksimal. Warganet juga menyinggung keterlambatan pengumuman kabinet dan terbitnya surat peringatan dari MPM KM Unand sebagai bagian dari rangkaian evaluasi terhadap kinerja awal kepengurusan.

Isu intervensi menjadi salah satu sorotan utama. Beberapa akun menuduh proses open recruitment dan seleksi struktural hanya bersifat formalitas karena nama-nama pengisi jabatan disebut telah ditentukan sebelumnya.

Selain itu, kritik juga diarahkan pada dugaan sikap tidak inklusif dalam peringatan hari besar keagamaan. Sejumlah komentar mempertanyakan tidak adanya unggahan ucapan hari raya agama tertentu di media sosial BEM KM, sementara ucapan hari besar agama mayoritas dinilai selalu dipublikasikan. Beberapa komentar di antaranya menyinggung janji inklusivitas saat masa kampanye.

Presiden BEM KM Unand, Shabbarin Syakur, membantah tuduhan adanya intervensi senior organisasi eksternal dalam kepengurusannya. Ia menyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan organisasi yang dituduhkan dan tidak terlibat dalam agenda mereka. “Jikalau ada tuduhan saya menerima intervensi dari organisasi yang bahkan saya tidak tergabung di dalamnya, tentu ini tuduhan yang lucu dan tidak beralasan,” ujarnya kepada tim Detak Alinea melalui pesan WhatsApp.

Syakur mengatakan kritik yang muncul menjadi bahan evaluasi internal organisasi. Ia menyebut pihaknya telah melakukan identifikasi terhadap sejumlah persoalan, termasuk kritik terkait lambatnya advokasi, serta melakukan konsolidasi bersama pimpinan organisasi mahasiswa dan BEM fakultas.

Terkait isu intoleransi, Syakur menjelaskan tidak adanya unggahan ucapan Natal dan Imlek di media sosial BEM KM bukan bentuk pengabaian, melainkan karena keterbatasan pengelolaan media pada saat momentum berlangsung. Menurutnya, komposisi internal pengurus yang beragam menjadi salah satu bukti bahwa organisasi bersifat inklusif.

Ia juga menegaskan bahwa unggahan media sosial tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur inklusivitas lembaga, meski kritik terkait hal tersebut tetap akan menjadi bahan evaluasi ke depan.

Direktur Kemahasiswaan Unand, Dr. Eng. Dendi Adi Saputra, S.T., M.T., saat dihubungi Detak Alinea melalui telepon, menilai kritik yang muncul terjadi cukup cepat dan disampaikan dengan bahasa yang keras, mengingat masa kerja kepengurusan baru berjalan sekitar dua bulan. Namun, ia menyatakan pihak direktorat menjaga batasan agar tidak masuk terlalu jauh dalam dinamika internal organisasi mahasiswa.

Ia menambahkan, terkait dugaan intervensi, mekanisme organisasi dikembalikan pada aturan internal dan AD/ART BEM KM tanpa campur tangan pihak direktorat kemahasiswaan. Hingga berita ini diturunkan, kritik di kolom komentar akun BEM KM Unand masih terus bertambah dan menjadi perhatian warganet.

Reporter: M. Rifki Yulian