POSHDem Gelar Diskusi “Mari Bicara”: Soroti Ekonomi Restoratif Sebagai Solusi Kritis Lingkungan dan Ketimpangan

POSHDem sukses gelar diskusi "Mari Bicara Sumatera Barat" sebagai ajang kolaborasi akademisi, jurnalis dan masyarakat di Ruang Studio PKM lt. 2 Universitas Andalas (Unand), Selasa (28/4). Mengusung tema "Dari Ekstraktivisme Menuju Ekonomi Restoratif dan Keadilan Ekologi," pembahasan diarahkan pada cara alternatif pengelolaan ekonomi restoratif yang tidak hanya mengambil tapi juga bagaimana upaya pemulihan lingkungan kembali.

Kegiatan ini menghadirkan Penulis Buku Reset Indonesia Farid Gaban, Antropolog Unand Fajri Rahman, Direktur Celios Fiorentina Refani, dan jalannya diskusi diarahkan oleh seorang jurnalis/anggota AJI Padang Febrianti.

Dalam diskusi, Farid Gaban menyatakan masalah ekonomi ekstraktif menyebabkan banyak kerusakan lingkungan yang salah satunya tercermin pada bencana yang belum lama ini melanda sebagian wilayah Sumatera.

Ia kembali menyatakan, hal tersebut tidak dapat disalahkan keseluruhannya atas hukum alam. Namun berkaitan erat dengan kurangnya tata kelola dan sosial yang dilakukan negara. “Banyak sekali hutan yang sudah rusak dan dialihfungsikan menjadi lahan sawit serta pertambangan. Ini menjadi pandangan bahwa negara tidak ramah dalam memajukan ekonomi,” ujarnya.

Mendukung pernyataan Farid, Fajri Rahman juga melihat apa yang terjadi saat ini dapat dikaitkan dengan ketidakadilan ekologi yang ujungnya mengarah pada ekologi politik. Yang dimana terdapat relasi lingkungan, kekuasaan dan produksi di baliknya.

Ia juga melihat kondisi dimana rakyat dipaksa untuk mematuhi kebijakan sedangkan sebaliknya, negara dengan bebas memberikan lahan mereka. Bahkan lahan di Indonesia dikuasi tiap bagiannya oleh pihak lain dan dinikmati secara timpang. “Tidak masuk akal bagi saya ketika negara memperbolehkan perusahaan besar untuk merampas hutan hingga habis sedangkan rakyat dipaksa mempertahankan kawasan mereka,” ujarnya.

Selain itu, Fiorentina Refani menyatakan pilihan rasional untuk menggunakan ekonomi restoratif sebagai pendorong ekonomi berbasis penjagaan lingkungan. Dibandingkan membabat lahan secara besar-besaran untuk penanaman sawit.

Ekonomi restoratif sendiri menurutnya memberikan efek positif seperti menurunkan ketimpangan ekonomi, meningkatkan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Merusak alam demi kepentingan ekonomi sama saja dengan mengundang bencana. Yang padahal dengan pelaksanaan ekonomi restoratif, banyak sekali dampak positif yang dirasakan,” ujar Fiorentina.

Melihat hal tersebut, Cici, seorang mahasiwa dari Unand menyatakan kegelisahannya sebagai salah seorang pihak yang pemenuhan ekonomi keluarganya berasal dari pertanian sawit. “Bagaimana sebenarnya cara agar petani sawit dapat berkaitan bahkan mendorong ekonomi restoratif. Apalagi melihat sawit menjadi hal yang lumayan sentimental pada saat ini,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Fiorentina menyatakan dalam pertanian sawit dapat dilakukan redistribusi lahan dan pengelolaan melalui kooperasi. Karena menurutnya, petani sawit tidak memiliki pilihan dalam perubahan lahan karena ada kebijakan dan keputusan dari pemerintah.

Reporter: Rahma Dini