Diskusi bertajuk “Apa Kabar Gerakan Gen Z Sumbar: Idealisme atau Transaksional?” digelar di Baka Coffee, Padang, Sabtu (14/3) malam. Forum ini menghadirkan sejumlah aktivis mahasiswa, jurnalis muda, tokoh organisasi kepemudaan, hingga Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat untuk membahas arah gerakan mahasiswa di Sumatera Barat saat ini.
Pengelola Rumah AFTA sekaligus tuan rumah kegiatan, Aseng Siregar, menyoroti semakin sempitnya ruang diskusi kritis bagi mahasiswa saat ini. Ia mengatakan forum tersebut sengaja dibuka agar mahasiswa dapat menyampaikan gagasan dan analisis secara bebas. “Ruang diskusi mahasiswa hampir tidak ada. Tujuan forum ini agar penyampaian analisa tidak hanya datang dari ketua organisasi saja, tetapi juga dari mahasiswa lain yang punya ide dan pandangan,” kata Aseng.
Ia juga menilai anak muda harus berani mengisi berbagai ruang strategis, tidak hanya dalam politik tetapi juga dalam bidang sosial dan ekonomi kreatif.“Partai politik harus diisi oleh orang muda, khususnya di Sumatera Barat. Begitu juga sektor sosial dan ekonomi kreatif. Anak muda harus hadir di sana,” ujarnya.
Pertanyaan utama yang mengemuka dalam diskusi tersebut adalah mengenai kondisi gerakan mahasiswa saat ini: apakah masih berlandaskan idealisme atau sudah bergeser menjadi gerakan yang transaksional?
Salah satu narasumber, Ridho yang merupakan seorang aktivis HAM, menilai bahwa kedua fenomena tersebut memang sama-sama ada dalam gerakan mahasiswa saat ini. “Transaksional ada dan idealis juga ada. Tak dapat dipungkiri bahwa di tengah keidealisan ini ada gerakan pragmatis yang terjadi. Salah satunya karena menurunnya partisipasi politik di kalangan mahasiswa. Kebanyakan manusia memakai hukum perut bukan hukum dada dan kepala,” ujarnya.
Ia juga menyinggung ungkapan yang kerap terdengar di kalangan aktivis bahwa idealisme sering kali bergantung pada kondisi ekonomi seseorang. “Kita sering mendengar ‘idealisme itu muncul setelah perut terisi’. Itu yang membuat transaksionalisme muncul, salah satunya karena organisasi sering menjadi jalan masuk ke partai politik,” tambahnya.
Pandangan lain disampaikan Fikri, Koordinator Pusat (KORPUS) BEM Se-Sumatera Barat. Ia menilai mahalnya biaya pendidikan turut mempengaruhi arah gerakan mahasiswa sehingga kampus tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang pematangan gagasan. “Kampus tidak lagi dijadikan sebagai laboratorium pemikiran. Justru yang terjadi adalah relasi yang cenderung transaksional karena mahalnya biaya pendidikan. Pada akhirnya, transaksional atau idealisme itu sangat bergantung pada individu masing-masing,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, Ketua Umum PHP Universitas Andalas, Akhiz, menekankan pentingnya keberpihakan mahasiswa terhadap persoalan masyarakat. “Jangan sampai terampas hak sendiri baru bergerak. Justru mahasiswa harus bergerak ketika hak orang lain dirampas,” tegasnya.
Sementara itu, jurnalis muda Rangga menyoroti fenomena gerakan mahasiswa yang dinilai semakin pragmatis, salah satunya karena lemahnya riset dan pendekatan berbasis data dalam aksi-aksi mahasiswa. “Mahasiswa sekarang sering kurang riset dan tidak berbasis data. Pengabdian ke masyarakat juga masih kurang. Padahal gerakan mahasiswa harus berangkat dari riset yang kuat,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa istilah transaksional tidak selalu bermakna negatif selama yang dipertukarkan adalah gagasan. “Tergantung apa yang ditransaksikan. Jika yang disampaikan adalah ide dan gagasan, maka transaksi itu justru positif,” kata Rangga.
Dalam sesi lain, Thaufik selaku Ketua Umum PRIMA DMI Sumatra Barat menyebut gerakan mahasiswa saat ini mulai terfragmentasi karena banyaknya kelompok atau “gerbong” yang memiliki afiliasi berbeda.“Mahasiswa sekarang sudah banyak gerbong. Ada yang ikut sana dan ikut sini. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan semua salah atas pilihannya, tetapi pilihan itu yang akan menentukan bagaimana mereka bersikap ke depan,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa tetap menjaga integritas dalam menentukan sikap. “Semoga kita semua yang ikut sana dan ikut sini bisa memantaskan diri dan tetap teguh pada pendirian untuk bersikap idealis dan netral pada kebenaran,” tambahnya.
Diskusi juga diwarnai interaksi dengan penyampaian ide, gagasan, dan pertanyaan dari audiens. Salah satu peserta, Zikri, meminta para narasumber menyampaikan data yang lebih konkret terkait kondisi gerakan mahasiswa saat ini.
Dalam sesi tersebut, Presiden Mahasiswa Universitas Adzkia turut menyampaikan pandangannya mengenai keterlibatan mahasiswa dalam gerakan sosial. Ia menyoroti adanya anggapan di masyarakat bahwa mahasiswa sering kali tidak mengambil peran dalam berbagai isu publik. “BEM Seluruh Indonesia sekarang terbagi menjadi 2: Kerakyatan dan Rakyat Bangkit, di Sumatera Barat sendiri kebayangan tergabung dalam Rakyat Bangkit, yang sering dituduh tidak mau mengambil peran. Bahkan dalam isu September Gelap kemarin, disebut sebagai dalangnya,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Moderator diskusi, Hafiz, menutup forum dengan menekankan pentingnya keterbukaan antar aktivis mahasiswa agar solidaritas gerakan dapat kembali terbangun. “Ketika kita sudah saling terbuka, maka solidaritas itu bisa kita bangun kembali,” tutupnya.